Thursday, 16 August 2012

Untuk saudaraku, Zuhud.


Untuk saudaraku, Zuhud.

Beberapa hari yang lalu, ayah seorang temanku resmi ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus penyelewengan dana. Sejak hari itu pula, temanku  itu tak mau masuk sekolah.

Malu. Mungkin itu yang dia rasakan. Ia malu memiliki ayah seorang koruptor. Menyesal karena ia lahir sebagai anaknya. Malu menjadi anak dari seorang pejabat yang hanya ingin menyekolahkannya di sekolah terbaik, membelikannya apa yang dia mau dan memberikan yang terbaik pada keluarganya (?)

Oh, atau mungkin juga ia sedang marah sekarang. Tapi marah pada siapa? Dirinya sendiri? Ibunya? Mereka berdua bahkan tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Mereka juga tak pernah menyuruh ayahnya korupsi. Iya kan?
Jadi marah pada siapa? Ayahnya? Mungkin saja…

Tapi aku punya sebuah cerita,
suatu kali ayahku pernah mengatakan pada kami, penguat seorng laki-laki adalah dukungan keluarganya. Istri dan anaknya harus mampu menjadi rem. Membantunya ketika memilih jalan terang, meminta si kemudi mempertimbangkan ketika ada jalan remang, dan harus menjadi penahan ketika ia melirik jalan dekat tetapi sangat gelap. Bukan hanya menerima dan tak mau tahu usaha apa yang dilakukan mereka –para kepala rumah tangga-.

~~~
Sore ini, ingin sekali aku berkunjung ke rumahnya. Tapi, yang membuatku terus berfikir hanyalah apa yang akan aku lakukan sesampainya di sana. Haruskah aku mengatakan ‘kau harus bersabar’ sambil mengusap pundaknya dan memeluknya ? Atau aku harus mengajaknya makan es krim seperti biasa, dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa? 

Maka dari itu, aku meminta bantuanmu, hut. Kau, pergilah ke keluarga itu. Mereka biasa meletakkan kunci di bawah pot bunga. Masuk dan tinggallah di sana. Aku akan menelepon temanku itu untuk memberikan ruang kepadamu.

Oya, nanti kalo dunia datang lagi mengetuk pintu mereka, katakan kalian tidak punya lagi cukup ruang untuk melayaninya. Katakan, kalian sekarang terlalu sibuk berbahagia. Oke? 

Nourma Mei Shinta

Sunday, 12 August 2012

Mahasiswa Peduli Bangsa


Mahasiswa Peduli Bangsa
Masithoh Sobron Jamila-Direktorat Pendidikan

Negeriku tercinta, oh indonesia raya
 tak kulihat lagi, garangnya garuda
Seperti dulu ketika majapahit sriwijaya berkuasa
Saat kita usir penjajah dan teriak merdeka
jadi negara yang didengar dunia

Kini beribu masalah tengah mendera
Kebobrokan moral tergelar dimana mana
Begitu banyak rakyat yang tertindas, terzalimi, dan tersiksa
Miskin, melarat dan terlunta lunta
Kelaparan, kebodohan menjadi hal biasa

Sementara tangan-tangan serakah berkuasa
Tindakan nista bernama korupsi menjalar merajalela
Hak rakyat mereka embat
Koruptor tertawa, diatas tangis rakyat menderita

Lalu ,kemanakah kau putra bangsa?
para mahasiswa,
Dimanakah rasa peduli sesama?
Apakah tenggelam dalam titel yang kau punya?
Egois, individualis, pragmatis, hedonis, apatis?

Duduk manis, berdalih realistis
Disaat kondisi bangsa kritis nan kronis
Kau acuh tak acuh, ketika yang lain berpeluh
Yang sedikit peduli malah salah bikin ricuh
Demontrasi dengan cara rusuh
Berteriak galak menuntut hak

Tapi sadarkah kau hanya merusak
Membuat kondisi makin parah
 kembali menambah masalah
Semua terpecah, ribut mencari siapa yang salah

Heii kawan , tidak bisakah kita bersatu
Mendorong negeri ini bergerak  maju
Tak hanya bermodal akademis
harus juga bersikap kritis, dinamis dan reformis

Jangan tanya apa yang sudah negara ini berikan
tanyakan  apa yang sudah kau persembahkan
berhenti menghujat betapa bodohnya pemerintah
tanyakanlah apa manfaat ilmumu bagi bangsa dan negara?
sumbangkan intelektualmu demi sebuah kemajuan
berusaha di bidang yang kau geluti
memberi kontribusi bagi negeri ini
masih saja mencari alibi?

Ahh, saja jengah dengan tingkah polah koruptor, katamu
Lalu, tegakah kau membiarkan rakyat tak berdaya ini dibohongi, ditipu melulu?
Sementara kau diam membisu
Nah, tunggu saja hingga hatimu keras membatu

Huftt, saya takkan pernah bisa bangga pada negeri ini , katamu
Helloo, mengapa bukan kau yang mencoba menjadi suatu kebanggaan bagi negerimu?
Nyalakan penerangan,temukan pencerahan, kita usir kegelapan
Tunjukkan, kita mahasiswa peduli nasib bangsa
Siapkan diri jadi sumber daya yang mumpuni
Yang siap mengabdi
Bersiap jadi reformis birokrasi
buat negeri ini jadi baik
 bukan sekedar lebih baik
demi wujudnya nusantara madani
Mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan hakiki
Bukan prasasti dan medali yang diminta nanti
Semata mata mengharap kembali senyuman ibu pertiwi
Bangkit, lawan korupsi!!
Hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia.
Indonesia Jaya!!!

Indonesia, “Negara Gagal” atau “Negara Terkorup” atau keduanya?


Indonesia, “Negara Gagal” atau “Negara Terkorup” atau keduanya?

Akhir-akhir ini berkembang isu tentang “negara gagal” yang disandang oleh Indonesia, dimana Indonesia menempati urutan ke-63 sebagai negara gagal berdasarkan hasil survey yang dilakukan lembaga nirlaba bernama The Fund for Peace yang dilakukan terakhir pada tahun 2012 ini. Sebelum kita memasuki bahasan mengenai Indonesia sebagai negara gagal, perlulah kita ketahui konsep tentang negara gagal itu sendiri. Negara gagal adalah negara yang pemerintah pusatnya tidak mampu mengontrol atau menguasai seluruh wilayahnya. Di bawah ini diuraikan karakteristik atau ciri-ciri negara gagal seperti yang dikemukakan oleh Amilla Agus dalam blog pribadinya (http://amillavtr.wordpress.com) sebagai berikut:
1.      Terasa tidak ada lagi jaminan keamanan
2.      Pemerintah seakan-akan tidak dapat lagi menyediakan kebutuhan pokok
3.      Korupsi merajalela dan justru dilakukan oleh lembaga yang sebenarnya mempunyai tugas pokok melindungi rakyat, masyarakat, dan negara terhadap gangguan korupsi itu
4.      Bentrokan-bentrokan horizontal di antara kelompok etnisitas yang sebenarnya tidak perlu terjadi
5.      Kehilangan kepercayaan masyarakat yang merata dan menyeluruh.
            Dalam indeks negara gagal, Indonesia menempati urutan ke-63, naik satu peringkat dari tahun lalu yang berada di posisi ke-64. Ini artinya keadaan yang memburuk dimana Indonesia menjadi negara yang dinilai lebih buruk dari tahun sebelumnya. Urutan negara gagal yang pertama adalah Somalia, disusul yang kedua adalah Republik Demokratis Kongo, dan yang berada di posisi 5 teratas dalam Indeks Negara Gagal adalah negara-negara di benua Afrika. Dari data yang diberikan oleh The Fund for Peace, terdapat 178 negara yang terdaftar di Failed State Indexdengan posisi terakhir yaitu urutan ke 178 ditempati oleh Finlandia. Artinya Finlandia merupakan negara yang jauh dari ancaman negara gagal.
            Gelar sebagai negara gagal yang kini disandang oleh Indonesia menimbulkan banyak pro dan kontra. Di satu sisi Indonesia telah menempati urutan dalam daftar negara-negara gagal hasil survey yang dilakukan The Fund for Peace, itu artinya Indonesia sudah dapat dinyatakan sebagai negara yang gagal. Di sisi lain, Indonesia masih menempati urutan ke-63 dalam indeks negara gagal tersebut, menunjukkan bahwa Indonesia masih jauh dari ancaman negara gagal karena masih ada 62 negara lain yang berada diurutan atas yang dinilai lebih buruk dari Indonesia. Pro dan kontra ini seharusnya tidak menjadi jurang pemisah bagi masyarakat Indonesia sendiri, dan bukanlah menjadi sumber ketegangan yang akan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Bangsa Indonesia seharusnya bersatu dan kemudian menyatukan visi untuk menghadapi tudingan ini dan berusaha membuktikan bahwa Indonesia bukanlah negara gagal ataupun negara yang terancam gagal.
            Adalah pemandangan sehari-hari menyaksikan antrian masyarakat untuk membeli beras, BBM, minyak tanah, gas elpiji, dan barang-barang publik lainnya yang seharusnya dapat disediakan oleh pemerintah untuk mencukupi kebutuhan rakyatnya. Lalu, apakah hal ini dapat dijadikan indikasi bahwa Indonesia merupakan negara yang gagal? Selain hal di atas, The Fund for Peace memasukkan Indonesia dalam daftar urutan negara yang gagal karena adanya beberapa indikasi lainnya, yaitu:
1.      kepatuhan sosial semakin menipis, rakyat semakin berani melakukan tindakan anarkistis
2.      korupsi kian merajalela dan terstruktur, serta dilakukan secara bersama-sama dan terang-terangan tanpa sedikitpun rasa malu
3.      hukum semakin tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Seorang pencuri kakao, celana dalam, sandal jepit, bisa dihukum beberapa bulan penjara, tetapi orang yang korupsi dan merugikan negara triliunan rupiah malah bisa melenggang menikmati hasil korupsinya.
Jika kita lihat beberapa indikasi di atas, pantaslah bahwa Negara Indonesia dimasukkan dalam Indeks Negara Gagal karena indikasi-indikasi tersebut merupakan keadaan yang menggambarkan rincian indikator negara gagal menurut The Fund for Peace. Selain itu, dapat pula kita lihat kenyataan di masyarakat bahwa yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya. Disinilah peran pemerintah dalam hal redistribusi pendapatan juga dinyatakan telah gagal.
            Yang perlu digarisbawahi disini adalah mengenai kasus korupsi yang semakin menjamur di negara kita. Apabila kita kaitkan konsep negara gagal dengan tingkat korupsi di Indonesia, tentu sudah dapat dipastikan Indonesia adalah salah satu negara yang gagal dalam melaksanakan fungsi pemerintahannya. Bagaimana tidak, Indonesia telah menduduki posisi keempat sebagai negara terkorup di dunia berdasarkan hasil Survey BPI atau Bribe Payer Index 2011 Transparency International yang dilakukan pada 28 negara. Survey ini bukan hanya dilakukan terhadap pemerintahan saja tapi juga seberapa sering terjadinya praktek suap dalam kegiatan bisnis di negara tersebut. Negara Indonesia bahkan telah mengalami kekacauan luar biasa dalam segala aspek dan segala tingkatan masyarakat mengenai tindak pidana korupsi. Dan bukan tidak mungkin, ulah para pejabat negara lah yang justru menjerumuskan Indonesia ke dalam pusaran negara gagal. Korupsi di Indonesia sudah bukan lagi dianggap sebagai suatu kejahatan yang melanggar hak-hak dasar manusia, tapi sudah menjadi kebiasaan yang membudaya dan terus merasuk ke seluruh lapisan masyarakat. Kesimpulannya adalah, gelar sebagai “negara terkorup” yang membawa Indonesia menjadi “negara gagal”
            Jika kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut tidak dihentikan, bukan hanya kegagalan pemerintahan negara yang tampak di depan tapi juga kehancuran mental dan budaya bangsa. Disinilah seharusnya para pemuda Indonesia khususnya golongan akademisi dapat mengambil peran. Pemuda bukan hanya generasi penerus bangsa tapi juga pembaharu bangsa yang dapat menciptakan suasana baru, gebrakan baru, dan semangat baru menjadikan Indonesia sebagai negara yang berintegritas, visioner, dan mengutamakan kejujuran serta keadilan.
Wahai pemuda Indonesia, suarakan pikiranmu!
Kuatkan mental dan semangat nasionalismemu
Jangan takut untuk menjadi penggerak
Saat ini, mulai dari sekarang

Kaulah pembaharu bangsa, masa depan bangsamu ada ditanganmu!


                                                                                                            -riska widya ningrum-

Indonesia merdeka

Indonesia merdeka

Oleh : ikhsan iskandar

Darah telah ditumpahkan untuk kemerdekaan …
Melawan penjajahan dan kebodohan …
Pengorbanan mereka yang Tak gentar ,,,,
Tak mundur … itulah Indonesia 45

Namun …..
hari ini …
Melawan korupsi kita tak berdaya …
Sang garuda kehilangan mental bajanya
Kehilangaan semangat Indonesia 45 ….

Ayo Indonesia  !!
Haruskah dijajah lagi baru bisa bangkit ??
Haruskah Negara ini tenggelam dalam korupsi
Kembali terjajah  oleh warganya sendiri ….


Tidak …
Kita tidak bisa berdiam diri
dan melihat sang garuda berhenti terbang di cakrawala …
menyia-nyiakan pengorbanan pahlawan kita …






bangkit …
bangkitkan semangat Indonesia 45
jangan pernah katakan “hai Indonesia kau punya masalah korupsi yang besar”
tapi Katakan “hai korupsi Indonesia adalah bangsa yang besar”
bangkit untuk Indonesia yang benar-benar merdeka J

Friday, 10 August 2012

Pejabat Anti Korupsi


Pejabat Anti Korupsi

       Setelah proyek milyaran selesai, seorang Pejabat Departemen kedatangan tamu konsultan merangkap kontraktor.
Konsultan: “Pak, ada hadiah dari kami untuk bapak.  Saya parkir dibawah Toyota Innova.”
Pejabat : “Anda mau menyuap saya? Ini apa-apaan? dah kelar kok. jangan gitu ya, bahaya       tau haree genee ngasih-ngasih hadiah.”
Konsultan: “Tolonglah pak diterima. kalau gak, saya dianggap gagal membina relasi oleh atasan.”
Pejabat : “Ah, jangan gitu dong. saya gak sudi!!”
Konsultan (mikir): “Gini aja, pak. gimana kalau bapak           beli saja mobilnya…”
Pejabat : “Mana saya ada uang beli mobil mahal gitu!!” Saya kan kan PNS?
Konsultan menelpon atasannya..
Konsultan: “Saya ada solusi, Pak.. Bapak beli mobilnya dg harga Rp.10.000,- saja.”
Pejabat : “Bener ya? OK, saya mau.. Tapi ini bukan suap, ya?. Pake kwitansi ya..”
Konsultan: “Tentu, Pak..”Konsultan menyiapkan dan menyerahkan kwitansi.
Pejabat  membayar dengan uang Rp 50 ribuan. mereka pun bersalaman.
Konsultan (sambil membuka dompet): “Oh, maaf Pak. Ini kembaliannya Rp.40.000,-. “
Pejabat : “Gak usah pakai kembalian segala. Saya pake beli lagi aja. Tolong kirim 4. mobil lagi kerumah saya ya…”
Konsultan : @#$%^&**

Sumber (ketawa.com)   

Ari Setiawan 

Ketika Idealisme Dituntut Mutlak


Ketika Idealisme Dituntut Mutlak

Belajar mengenal idealisme, belajar mengenai keteguhan hati, belajar mengambil prinsip. Itulah sebabnya mengapa idealisme itu sangat perlu dan sangat diperlukan. Idealisme adalah kekuatan atau kepercayaan terhadap suatu ruh atau zat yang melebihi materi, mempercayai prinsip, memiliki suatu keteguhan yang tidak akan pernah goyah selama itu baik, benar, dan kita sanggup menjaga prinsip itu.  

Hukumnya adalah wajib bagi sesorang memiliki idealisme. “Is a crime being an idealist?” itulah yang ditanyakan oleh Soe hok Gie tokoh reformasi tempo dulu, apakah suatu tindakan kriminal menjadi orang yang idealis? Tidak tentunya! Apakah suatu kesalahan yang besar? Tidak ada orang yang perlu menyalahkan keidealismean kita. Apakah suatu kebangaan? Ya pasti, tentu saja! Lebih baik menjadi orang yang dihina, dicaci, dimaki, daripada harus kehilangan idealisme, bila idealisme itu hilang maka berarti mati, kita akan menjadi manusia yang tanpa prinsip, tanpa arah, tanpa tujuan, kehilangan pegangan hidup, dan itulah kematian hidup. Menjadi seorang yang beridealisme itu penting, bahkan sangat penting di jaman serba edhan saat ini. Idealisme sangat erat konteksnya dengan kejujuran. Menjadi seorang yang jujur jelas lebih baik daripada seorang yang harus menutupi, apapun itu hal yang ditutupi. Kalau ada anggapan bahwa menutupi suatu persoalan demi kebaikan, saya sangat menyangsikannya, tidak ada hal dusta yang baik. Karena mencoba menutupi suatu kesalahan atau suatu peristiwa itu bermakna kematian hati. Mencoba menutupi suatu kesalahan adalah mati, mencoba menghilangkan fakta adalah mati, mencoba takut mengungkapakan kebenaran adalah juga mati. Garis awal menuju kematian, kehancuran, keterpurukan bila mencoba untuk melakukan suatu tindakan tidak berpendidikan dengan menjadi seorang yang tidak jujur. Apalagi bila ini dilakukan oleh mahaiswa dengan tingkat intelegensi yang rata-rata tinggi seperti mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, calon pegawai keuangan masa depan Republik Indonesia. Tapi saya percaya semua mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara memiliki moral, pantang untuk berlaku tidak berpendidikan dengan menjadi seorang yang tidak jujur.

Adalah benar suatu prinsip yang mengatakan “Lebih baik jujur, dan akan lebih baik lagi jujur di awal sebelum melakukan kesalahan.”. Berani untuk jujur, berani melawan tindakan di balik konspirasi. Memiliki mental berani, mental pemimpin yang berwibawa, karena bila nanti kita yang kelak menjadi pegawai keuangan Republik Indonsia itulah modal utama kita, kejujuran. Orang yang tidak jujur ibarat memiliki saluran kotoran di mulutnya, sedangkan orang yang jujur mulutnya serasa bau surga. Keuangan adalah tonggak utama bangsa ini berdiri, keuangan itu sangat penting keberadaannya. Ada satu guyonan yang mengatakan “Uang bukanlah segala-galanya, tapi segalanya memakai uang.”. Ya, saya rasa hal ini benar dan tidak hanya sebagai suatu guyonan belaka, karena uang sangat penting untuk pembangunan negara ini, sebagai contoh uang yang dikumpulkan dan didapatkan dari pembayaran pajak nantinya akan dianggarkan untuk kepentingan negeri ini pula. Maka tidaklah salah bila saya menganggap hal itu bukan lagi sebagai sebuah guyonan, bukan bermaksud untuk menjadi matrealis, tetapi cobalah sedikit membuka pikiran, ini adalah suatu bentuk realistisme. Keberadaan uang memang sangat penting, sama pentingnya dengan keberadaaan Depertemen Keuangan. Lulus dari sekolah kampus STAN maka adalah tugas kita untuk mengabdi kepada negara dibawah naungan departemen itu. Departemen yang konon katanya di sanalah kejujuran akan digadai dengan nafas dan hasrat akan kebendaan. Sebuah tanggung jawab besar bagi pegawai keuangan untuk menjaga amanah, cukuplah ada seorang Gayus yang merugikan negara ini, jangan sampai muncul Gayus atau sebangsanya yang lain. Menjadi seorang pegawai kuangan yang jujur sama dengan menjadi seorang yang bisa menjaga aset bangsa ini sendiri, mengamankan kekayaan negara untuk kepentingan masyarakat luas. Apa jadinya bila kita seorang pegawai keuangan yang tidak jujur, kita akan menjadi benalu, merugikan bangsa, mengganggu kestabilan ekonomi negara. Menjadi seorang yang tidak jujur ini akan semakin menambah persoalan Negara, banggakah?

Maka dari itu, yang diperlukan oleh semua pegawai keuangan untuk menjadi jujur adalah kemauan. Mau dan harus mampu menjadi sesorang yang jujur. Bagaimana cara kita untuk bekerja memroporsikan bagian-bagian yang menjadi tanggung jawab, bagian-bagian yang menjadi kepentingan umum dan kepentingan sendiri, harus kita membaginya secara jelas harus ada letak pembedanya, tidak menyamakan semua hal sebagai satu hal yang sama, harus ada gap antara kepentingan kelompok dan kepentingan pribadi, dan kepentingan kelompok atau kepentingan umum adalah di atas segala-galanya tidak untuk mengikuti ego atau hasrat pribadi terlebih dahulu. Selain itu juga diperlukan kematangan dan profesionalitas, bila seseorang memiliki profesionalitas maka dirinya akan bekerja sesuai kode etik yang berlaku, sesuai kaidah, dan dengan sendirinya kejujuran itu pasti akan tertanam dalam di dalam dirinya. Dan saya percaya sebagai seorang yang kelak akan menjadi pegawai keuangan, kita mahasiswa STAN pasti telah siap untuk jujur karena kejujuran, harkat, martabat, harga diri, dan itu adalah harga mati.

Bayu Triongko Sadewo

Sepuluh pintu setan datang menggoda


Sepuluh pintu setan datang menggoda

Setelah berlalunya bulan Ramadhan, kita wajib meningkatkan amal dan ibadah melebihi bulan ramadhan tersebut bukannya malah jalan ditempat bahkan mundur. Begitu juga dengan usaha memperkuat diri dengan integritas menghadapi segala hawa nafsu yang akan menggoda di depan mata. Nafsu untuk korupsi. Korupsi dalam hal ini bukan hanya korupsi yang besar-besar saja ya, tapi hal-hal kecil seperti terlambat dan tidak jujur pun termasuk korupsi. Kali ini aku mau sharing “Sepuluh pintu dimana setan mendatangi manusia” dan bisa jadi pintu dimana setan menggoda kita untuk melakukan korupsi.
1.       Ambisi dan buruk sangka
Ambisi yang berlebihan dalam hidup akan membawa kita kearah yang tidak baik bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Misalnya ambisi mendapat jabatan yang tinggi, kita rela melakukan apapun untuk mendapatkannya termasuk menyuap para pejabat. Kemudian buruk sangka, seburuk-buruknya wajah orang lain belum tentu hatinya buruk juga.hehehe..ga boleh sembarangan tuduh orang klepto karena mukanya kayak orang susah. Ups,, buruk sangka banget itu. Ga boleh nuduh PNS baru udah korupsi karena setiap bulan ganti mobil baru. Curiga boleh.hehe.. yah mungkin aja kan dia anak orang kaya dari sananya makanya bisa gonta-ganti mobil semau udelnya die atau mungkin bapaknya punya showroom mobil kan. Bisa jadi tuh..

2.       Kecintaan kepada hidup dan panjang angan-angan
Jangan terlalu cinta sama kehidupan ini sampai-sampai ga rela kehilangan dan jangan terlalu berangan-angan yang kira-kira jalan kesana pun kamu belum mulai dari sekarang. Contohnya ga rela kalau laptop ilang(emang ga bakalan rela sih!) trus nyari cara gimana pun caranya supaya dibeliin yang lebih bagus sama ortu. Bohong dan kawan-kawannya kamu jadiin senjata andalan buat dapet laptop baru. Hmmm, ga banget tu. Korupsi dimulai dari bohong bahkan niat buat bohong! Angan-angan yang terlalu panjang alias jauh. Misal mau jadi pejabat yang anti korupsi tapi sekarang aja kamu udah mulai korupsi yang kecil-kecil. Semua dimulai dari yang kecil bos..

3.       Keinginan untuk santai dan bersenang-senang
Hidup santai ongkang-ongkang kaki, ga kerja, banyak uang mau apa aja tinggal bilang. Hmm enak banget ya kayanya tapi mustahil banget kalo kamu bukan anak orang kaya dari sononya atau engga kamu tiba-tiba nerima wasiat atau undian. Guys, be realistis yo..
Hidup enak kaya gitu Cuma di film. Aslinya kamu harus kerja giat buat dapetin itu semua. Tapi harus kerja yang ikhlas yah biar ga kepikiran buat korupsi.

4.       Bangga diri
Boleh berbangga tapi jangan berlebihan. Pokoknya apapun yang berlebihan itu ga baik. Terlalu bangga kalo kita cantik/ tampan,hmm tunggu 50 tahun lagi apa masih sama kayak sekarang? Sama sih Cuma ditambah sedikit keriput dan banyak suntikan botok.hohoho..
Bangga banget karena kita pintar?helloooo Allah aja yang ciptain seisi bumi ga segitunya. Ko kita baru bisa lulus STAN aja bangga berlebihan. Hati-hati ini kebanggaan itu bisa menjerumuskan diri sendiri lho.

5.       Sikap meremehkan dan kurang menghargai orang lain
Ini nih yang kadang secara ga sadar terjadi sama kita. Sikap yang kadang terlalu meremehkan orang lain dan sekalinya kita diremehkan hati sakit bahkan berniat korupsi untuk menunjukkan “derajat sosial” kita ga boleh diremehkan. Hmm ga bijaksana banget kalau kita mikir gitu. Makanya seburuk-buruknya orang dan sebaik-baiknya kita (hehe) tetap ga boleh saling meremehkan dan tidak menghargai. Karena pasti rasanya sakit banget kalau kita sampai diremehkan orang lain. oke!

6.       Dengki
Dengki, sirik, dan kawan-kawannya tanda kita tak mampu. Tak mampu ikhlas menerima rezeki dan takdir yang kita miliki bisa berakibat fatal lho guys! Pertama rezeki kita tidak akan ditambah oleh Allah s.w.t. dan kita bakal puter otak buat dapetin uang dari mana pun asalnya dan bagaimana pun caranya. Ini nih yang bahaya, bisa menjerumuskan kita ke kata-kata kotor “korupsi”.

7.       Riya’ dan keinginan untuk dipuji manusia
Pamer ini juga jadi salah satu pendorong kita untuk korupsi. Kenapa? Siapa sih yang ga kepengen punya uang banyak, rumah mewah, mobil canggih? Apalagi bisa dipamerin ke calon mertua..wuhuu makin keren deh kita. Ya tapi kalo cara ngedapetinnya pake korupsi, bukan pujian yang bakal kita dapet tapi cacian makian bahasa kebun binatang yang bakalan keluar dari mulut camer. Ujung-ujungnya boro-boro jadi camer yang ada si calon bakalan dijauhin dari kita. Iihhh ga mau kan?

8.       Kikir
Kikir bin pelit bin medit ini sifat yang paling banyak dibenci sama calon pendamping hidup kita. Hehehe.. gimana ga mau kikir, orang duit yang didapet bukan duit halal, alias hasil korupsi. Kalau dibelanjain takut ketahuan, kalau didiemin aja yah sayang. Apa gunanya punya banyak uang tapi ga bisa dipakai? Serba salah kan? Mending cari duit halal aja deh guys..

9.       Sombong
Kesombongan akan harkat dan martabat diri ini juga bakal buat kita jatuh. Gimana engga, kalo apa yang kita sombongin hasil dari korupsi. Nyuap pejabat biar naik pangkat, ngancem wajib pajak, main curang di proyek biar dapet bagian? Keren? Yah enggalha yang ada tiap malam tidur ga nyenyak takut ditangkep KPK. Masih sombong kalau ketangkep KPK, hmm gile aja lu!

10.   Tamak
Orang yang jalan kaki selalu pengen punya sepeda biar ga capek. orang yang punya sepeda pengen punya motor biar lebih ga capek. yang punya motor pengen punya mobil biar keren (yang ada jalanan makin penuh). Yang punya mobil 1 pengen punya 4 biar bisa gonta-ganti. Bosen pake mobil? Minta punya helicopter. Ini yang namanya tamak bin maruk bin rakus. Ga pernah puas sama apa yang kita punya. So, ikhlas, ridho, dan bersyukur guys! Mudah-mudahan kita dijauhin deh dari sifat ini biar ga kegoda untuk korupsi J

IIS SETIANI